1 a last

PENGANTAR MUSHAF TADABBUR

Segala puji hanya untuk Allah… Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi kita Muhammad Saw.,  keluarga, Sahabat dan para pengikut setianya sampai akhir zaman.

Rasa syukur  yang  tak terhingga atas nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’la, khususnya dalam menyusun dan menyiapkan MUSHAF TADABBUR ini sehingga dapat sampai ke tangan pembaca yang tercinta.

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah ruh (nyawa) umat Islam. Tanpa Al-Qur’an hati mereka mati sehingga tidak bisa hidup di atas jalan yang lurus dan terlunta-lunta dalam tipuan kehidupan dunia )Asy-Syura : 52). Sedangkan dalam kehidupan akhirat nanti akan lebih tersesat dan lebih menderita lagi (Thaha : 124-127). Sebab itu, umat Islam tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah sebuah Kitab Petunjuk Hidup  dari Allah yang terakhir untuk manusia yang sudah terbukti kebenarannya sejak pertama kali diturunkan sampai saat ini. Maka, Al-Qur’an adalah kebutuhan hidup mereka melebihi kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena, makanan dan minuman hanya bermanfaat selama nyawa masih dikandung badan. Sedangkan Al-Qur’an menyelamatkan manusia dari dunia sampai akhirat.  Eksistensi, kebaikan dan kemuliaan mereka di dunia dan akhirat sangat tergantung kepada Al-Qur’an, sebagaimana yang disabdakan Rasul Saw. “Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Imam Bukhari)

Jika kita amati hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an sepanjang rentang sejarah  yang sudah berusia hampir 14.5 abad, yakni sejak Al-Qur’an itu diturunkan Allah sampai hari ini, maka secara umum, kita menemukan dua kondisi yang bertolak belakang 180 derajat.

Kondisi Pertama ialah generasi-generasi Islam yang mendapat taufiq dari Allah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka adalah generasi Islam pertama, yakni para Sahabat Rasulullah Saw. sampai beberapa generasi setelahnya. Generasi-generasi tersebut dapat membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an secara utuh dan maksimal dalam semua lapangan kehidupan. Fakta sejarah menunjukkan, tidak ada satu ayat pun yang tidak mereka pahami dan amalkan dalam kehidupan, sehingga Al-Qur’an itu benar-benar menjadi the way of life (petunjuk hidup) mereka, sesuai tujuan Al-Qur’an itu diturunkan Allah ke atas bumi ini (Al-Baqarah : 2 dan 185), baik dalam kehidupan pribadi, rumah tangga dan bahkan dalam sistem pemerintahan. Maka derajat mereka langsung terangkat sehingga menjadi generasi “khairu ummah”, generasi terbaik yang ditampilkan Allah ke atas muka bumi ini, khususnya generasi Sahabat sehingga mereka adalah orang-orang yang sukses di dunia dan akhirat, Insya Allah.

Kondisi Kedua ialah umat Islam saat ini, paling tidak satu abad belakangan. Mereka sulit sekali berinteraksi dengan Al-Qur’an.  Al-Qur’an tercerabut dari dalam diri mereka sehingga antara mereka dengan Al-Qur’an terdapat jarak yang sangat jauh. Ajaibnya, kesulitan itu bukan hanya pada tataran implementasi Al-Qur’an sebagai the way of life, tapi juga membaca, memahami dan menghafalnya, kecuali sebagian umat Islam yang diberi Allah rahmat-Nya kepada mereka. Akibatnya, dapat kita saksikan kehidupan umat Islam dalam satu abad belakangan ini terpuruk dalam semua lapangan kehidupan. Lebih menyedihkan lagi, umat Islam yang belasan abad hidup dalam sebuah negeri besar yang membentang dari Jakarta sampai  Maroko terpecah belah menjadi 52 negara sehingga menjadi santapan lezat bagi bangsa-bangsa lain. Nyaris tidak ada satu negeri Islampun hari ini yang terlepas dari hegemoni asing, baik dalam ekonomi, politik, budaya dan bahkan sampai menentukan ajaran Islam dan isi sebagian ayat Al-Qur’an pun harus mengikuti selera umat atau bangsa lain. Inilah masa kehinaan yang luar biasa yang dihadapi umat Islam.

Berdasarkan berita-berita kebenaran Al-Qur’an, hadits-hadits Rasul Saw. dan fakta sejarah umat Islam, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kondisi seperti ini akan terus berlanjut sampai umat Islam kembali kepada Al-Qur’an secara kosekuen dan konsisten sebagaimana yang dilakukan generasi-generasi Islam sebelumnya. Buktinya, bukankah bangsa Arab, Afrika, Asia dan bahkan sebagian Eropa yang dimasuki Islam adalah bangsa-bangsa yang hidup dalam kegelapan dan berbagai krisis kemanusiaan sebelum kedatangan Islam di negeri-negeri mereka? Lalu Allah angkat derajat dan kemuliaan mereka setelah mereka masuk Islam dan menjadikan Al-Qur’an sebagai the way of life dalam berbagai lapangan kehidupan. Kejayaan dan kemuliaan itu Allah cabut kembali saat mereka melupakan Al-Qur’an dan tidak menjadikannya sebagai the way of life, khususnya sejak satu abad belakangan ini.

Fakta tersebut di atas dan spirit kembali kepada Al-Qur’an inilah yang mendorong kami selama bertahun-tahun memikirkan bagaimana Al-Qur’an ini sampai kepada masyarakat dengan mudah dan interaktif dengan diri dan kehidupan, sehingga Al-Qur’an itu menjadi bacaan dan referensi utama umat ini, kemudian dipahami isinya dengan baik dan diamalkan petunjuk-petunjuknya dalam kehidupan sebagaimana yang dilakukan oleh generasi-generasi Islam sebelumnya.

Mungkin sebagian dari kita ada yang berpendapat bahwa generasi Sahabat mudah membaca, memahami, mengamalkan dan menghafal Al-Qur’an karena mereka hampir 100% dari kalangan bangsa Arab, sedangkan Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa ibu mereka. Kalau pendapat tersebut benar, maka kita akan bertanya : Bagaimana dengan generasi-generasi sesudah generasi Sahabat,  yakni Tabi’in, Tabi’ittabi’in dan selanjutnya? Bukankah Islam sejak zaman Sahabat sudah tersebar ke Afrika dan tidak lama kemudian berkembang sampai ke Eropa, Asia tengah dan Asia Selatan yang semua penduduk aslinya bukan berbahasa Arab?

Fakta menunjukkan,  mereka menguasai Al-Qur’an dengan baik dan maksimal. Bahkan yang menakjubkan, banyak pula bahasa mereka, khususnya Afrika berubah total menjadi bahasa Arab seperti Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Maroko dan sebagainya. Adapula yang pengaruh bahasa Arabnya antara 5 – 30 % seperti bahasa Urdu, Turki, bahasa Melayu dan sebagainya. Pengaruh bahasa Arab itu bukan karena yang membawa Islam ke wilayah-wilayah tersebut adalah bangsa Arab Muslim, akan tetapi karena Al-Qur’an yang mereka bawa dan sebarkan itu Allah tetapkan dalam Bahasa Arab (Surah Yusuf : 2). Bahkan, bahasa Arab itu sendiri terpelihara dengan baik dan utuh disebabkan Al-Qur’an, bukan sebaliknya. Kalaulah Al-Qur’an itu bukan bahasa Arab, pastilah kita akan melihat perubahan yang banyak dalam bahasa Arab sepanjang sejarahnya, khususnya sejak Al-Qur’an diturunkan sampai hari ini, sebagaimana yang dialami bahasa-bahasa lainnya.

Di samping itu, fakta sejarah umat Islam  membuktikan bahwa ulama-ulama besar Mujtahidin dalam berbagai disiplin ilmu, seperti tafsir, fiqih (hukum), hadits dan bahkan ilmu pengetahuan kauni (sains) lahir setelah generasi Sahabat sampai abad ke 5 hijriyah. Tidak diragukan, mereka lahir sebagai buah interaksi mereka dengan Al-Qur’an secara maksimal dan intensif. Fakta lain yang mengagumkan lagi, sebagian mereka bukan dilahirkan  dari keluarga Arab atau bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, seperti Imam Al-Bukhari berasal dari Bukhara, wilayah eks Uni Soviet, Ibnu Hazm dari Spanyol, Imam Al-Ghazali dari wilayah Asia Selatan dan ribuan ulama besar Islam lainnya dari berbagai disiplin ilmu. Mereka lahir dari kalangan Ajam (non Arab). Fakta lain yang tak kalah pentingnya, ialah sejak Al-Qur’an diturunkan sampai hari ini, belum pernah bumi ini sepi dari orang-orang yang memahaminya dan bahkan menghafalnya, termasuk dari kalangan Ajam (non Arab).

Perlu kita catat bahwa Al-Qur’an itu diturunkan Allah dalam bahasa Arab untuk semua manusia, apapun bahasa ibu mereka. Sedangkan masa berlakunya sampai hari kiamat. Logikanya, jika Al-Qur’an itu sulit dibaca, dipahami dan diamalkan kecuali oleh orang yang bahasa ibunya berbahasa Arab, maka mustahil Allah jadikan Al-Qur’an yang berbahasa Arab itu sebagai kitab petunjuk semua manusia sampai hari kiamat. Allah Maha Mengetahui manusia, karena  Dialah yang menciptakan mereka dengan berbagai suku, bangsa, warna dan bahasa, seperti yang dijelaskan-Nya dalam Surah Ar-Rum ayat 22 dan Surah Al-Hujurat ayat 13.

Artinya, siapapun, baik dari kalangan bangsa Arab maupun Ajam (non Arab) yang mau belajar, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an pasti Allah berikan taufiq dan kemudahan, seperti yang dijelaskan-Nya dalam suarat Al-Qamar ayat 17, 22, 32 dan 40. Fakta membuktikan, sejak Al-Qur’an itu diturunkan sampai hari ini, belum pernah satupun negeri Islam yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa, sepi dari generasi yang memahami dan menghafal Al-Qur’an.

Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an sebanyak delapan tempat bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab dengan berbagai fungsinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami menurunkannya Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Yusuf : 2).

Dan demikianlah, Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) sebagai hukum (peraturan yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar-Ra’du : 37)

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya tentang ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (Thaha : 113)

(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (Az-Zumar : 27)

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni Qur’an dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui-(nya). (Fussilat : 3)

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya (penduduk dunia) serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (Mahsyar) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam. (Asy-Syura : 7)

Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (Az-Zukhruf : 3)

Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ahqaf : 12)

Dari ayat-ayat dan penjelasan sebelumnya dapat kita ambil kesimpulah bahwa  Allah telah menjamin kemudahan membaca, memahami, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an bagi siapa saja yang menginginkannya dan dari bangsa mana saja, karena Al-Qur’an itu diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup manusia.

Memahami KANDUNGAN Al-Qur’an

Adapun untuk memahami Al-Qur’an ada dua cara :

Pertama, yaitu dengan memahami bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an itu sendiri dan berbagai ilmu alat lainhya seperti ilmu-ilmu tentang Hadits,  Tafsir dan sebagainya. Ini adalah jalan terbaik seperti yang dilakukan generasi-generasi terbaik Islam. Namun demikian, jika jalan tersebut belum terbuka sehingga belum menguasai bahasa Arab Al-Qur’an dan berbagai ilmu alat lainnya, tidak berarti kesempatan memahami Al-Qur’an itu hilang dan tertutup. Masih ada jalan lain yang Allah bukakan, yakni jalan lain yang lebih ringan, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Kedua, yakni dengan membaca dan memahami terjemahan perkata (ma’ani al mufradat) dan terjemahan per ayat Al-Qur’an  dan ditambah dengan terjemahan kitab-kitab Tafsir yang mu’tamad (kredibel) seperti Tafsir Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Fizhilalil Qur’an dan sebagainya,  sesuai dengan bahasa yang dipahami, seperti bahasa Indonesia bagi kaum Muslimin yang tinggal di kawasan Nusantara dan begitulah seterusnya. Alhamdulillah, jalan kedua ini sejak 20 tahun terakhir sudah terbuka dengan sangat lebar sehingga menjadi sangat mudah bagi yang ingin mengikutinya.  Sebab itu, kita pantas bersyukur dan berterima kasih kepada para ulama dan siapa saja yang telah berperan dalam mensosialisasikan terjemahan Al-Qur’an perkata, per ayat dan terjemahan kitab-kitab Tafsir lainnya.

Namun demikian, ada satu hal yang perlu kita ingat, bahwa suadara-saudara kita yang menempuh jalan kedua ini tidak boleh hanya mencukupkan terjemahan per kata atau per ayat. Berdasarkan fakta, sebaik apapun terjemahan perkata dan per ayat, belum memadai utuk menangkap semua pesan dan kandungan Al-Qur’an secara utuh. Sebab itu, penjelasan ayat-ayat (tafsirul ayaat) mutlak diperlukan agar jelas pesan ayat-ayat Allah tersebut.

Hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa kandungan ayat-ayat Al-Qur’an itu bukan sekedar untuk dipahami, melainkan lebih dari itu, yakni untuk diamalkan dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, Tadabbur  Al-Qur’an (renungan atau penghayatan) suatu ayat atau kelompok-kelompok ayat Al-Qur’an menjadi sangat urgent. Seُbab itu, kami menghadirkan MUSHAF TADABBUR ini dengan menggunakan Metode Tadabbur, seperti yang akan dijelaskan.

Al-Qur’an Interaktif

Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah software  manusia yang Allah ciptakan agar kinerja berfikir dan berperilaku mereka baik dan maksimal sesuai dengan fitrah dan kemuliaan manusia yang telah diciptakan-Nya. Untuk itu, software Allah yang bernama Al-Qur’an itu perlu diinstal ke dalam jantung (hati nurani) agar hati nurani tersebut meyakini dan memahami kebenarannya. Pada waktu yang sama perlu pula diinstal ke dalam otak kita agar kinerja otak kita yang memiliki 20 milyar neuron dan 2 milyar sambungan sarafnnya itu berfungsi dengan baik dan benar. Otak memerlukan suplai makanan berupa informasi dan ilmu pengetahuan yang benar. Sebab itu, Al-Qur’an adalah makanan otak yang terbaik karena semua informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya adalah pasti benar dan akurat. Tidak ada informasi dan ilmu pengetahuan yang lebih baik dan lebih sehat selain wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw. Suatu fakta yang tak terbantahkan ialah, lahirnya generasi terbaik sepanjang sejarah Islam, sejak generasi pertama (generasi Sahabat) sampai beberapa abad berikutnya, adalah karena keberhasilan mereka menginstall software Allah yang bernama Al-Qur’an ke dalam hati nurani dan otak mereka sehingga terbentuk karakter Rabbani atau karakter Qur’ani dalam diri mereka.

Alhamdulillah, berkat taufik dan inayah-Nya, Allah telah membukakan kepada kami rahasia bagaimana cara mudah belajar membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dalam sebuah program: Kembali Kepada Al-Qur’an. Program tersebut kami rancang agar Al-Qur’an masuk (terinstal) ke dalam otak dan jantung (hati nurani) kita sehingga keyakinan, pemikiran dan tindak tanduk  (perilaku) kita sesuai dengan order (perintah) Al-Qur’an. Kecanggihan penciptaan otak, jantung (hati nurani) yang memiliki lebih dari 40 ribu saraf dan kecanggihan diri manusia hanya akan berfungsi baik dan maksimal jika menggunakan software Allah Ta’ala yang bernama Al-Qur’an Al-Karim.. Tanpa software ciptaan-Nya itu, otak, jantung (hati nurani) dan perilaku manusia mengalami hang dan kacau, bahkan bisa rusak total atau mati disebabkan virus-virus pemikiran dan informasi yang tidak sesuai dengan fitrah otak, jantung (hati nurani) dan diri manusia itu sendiri.   Akibat gaya hidup yang serba instan itu, umat ini terjebak antara terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an perkata atau per ayat yang belum cukup menjelaskan semua pesan yang Allah ingin sampaikan dan beban berat buku-buku tafsir yang berjilid-jilid yang hanya orang-orang memiliki semangat baca yang sangat kuat yang mampu mebuka dan menelaahnya, kendati sudah diterjemahkan ke dalam bahasa sendiri.

Berdasarkan fakta tersebut, kami mencoba mencari solusinya dengan menghadirkan MUSHAF TADABBUR ini dengan metode tadabbur ayat atau kelompok ayat, agar dapat membantu dan memudahkan para pembacanya memahami dan mengamalkan Al-Qur’an, tanpa dibebani buku-buku tafsirt yang berjilid-jilid. Namun, mereka juga mendapatkan penjelasan atau tafsir ayat-ayat Al-Qur’an secara memadai dan penghayatan ayat-ayat Al-Qur’an melalui “tadabbur suatu ayat atau kelompok ayat” yang kami sajikan. Targetnya adalah memahami pesan utama (urgently message) yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dan pada waktu yang sama semoga terdorong untuk mendalami rinciannya dalam kitab-kitab Tafsir, menghayati dan mengamalkannya.

Sebagai catatan untuk para pembaca, MUSHAF TADABBUR ini kami hadirkan dalam tiga format (bentuk) :

Format Besar yang terdiri dari nash Al-Qur’an, terjemahan perkata, terjemahan per ayat, catatan kaki dan Tadabbur Ayat.

Format Sedang yang terdiri dari nash Al-Qur’an, terjemahan per ayat, catatan kaki dan Tadabbur Ayat.

Format Kecil yang terdiri dari nash Al-Qur’an dan Tadabbur Ayat.

Metode Tadabbur

Tadabbur berarti merenungkan, menghayati dan memikirkan. Maka, Metode Tadabbur ialah memahami, menghayati dan memikirkan setiap kata dan setiap ayat Al-Qur’an, dari surah Al-Fatihah sampai surah An-Nas. Sebab itu, seindah apapun susunan ayat-ayat Al-Qur’an, seilmiah apapun kandungan Al-Qur’an dan sebesar apapun mukjizat Al-Qur’an, tanpa mentadabburkan ayat-ayatnya, maka kita akan sulit memahami dan menerima pesan-pesannya untuk diimplementasikan dalam kehidupan. Sedangkan iman kita pada Al-Qur’an tidak akan bermanfaat atau tidak sah jika Al-Qur’an itu tidak diamalkan dalam kehidupan di dunia. Tanpa petunjuk Al-Qur’an, kita akan tersesat dan hina dalam kehidupan di dunia ini dan dalam kehidupan akhirat tentu lebih hina dan lebih menderita lagi.

Ada tiga alasan kenapa harus menggunakan Mushaf Tadabbur ini :

Allah memerintahkan manusia untuk mentadabburkan Al-Qur’an agar mereka memahami dan menghayati isinya dengan benar. Sebab itu, kata tadabbur diambil dari bahasa Al-Qur’an itu sendiri yang berarti merenungkan, memikirkan dan menghayati sehinga dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ke dalam diri. Dalam Al-Qur’an terdapat tiga Ayat yang memerintahkan manusia pada umumnya dan kaum munafiq khususnya, mentadabburkan Al-Qur’an :

Surah An-Nisa’ ayat 82:

 

     َفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

 

         “Mengapa mereka tidak mentadabburkan Al-Qur’an? Jika Al-Qur’an itu (datang) dari selain Allah, pasti mereka menemukan di dalamnya perselisihan yang banyak. (QS. 4 : 82)

Surah Muhammad ayat 24 :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

 

         “Maka apakah mereka tidak mentadabburkan Al Quran? Ataukah hati mereka terkunci? (QS.47 :24)

 

Surah Shad ayat 29 :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَاب

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS.38:29)

Fakta historis menunjukkan bahwa tadabbur adalah cara internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam diri seperti yang dilakukan Rasul Saw. dan para sahabat Beliau. Sebab itu, wajar jika akhlak Rasul Saw adalah Al-Qur’an, spt yg dijelaskan ‘Aisyah Ummul Mukminin. Sebab itu,  tadabbur ialah :

2.1.   Cara terbaik memecahkan belenggu-belenggu hati dan pikiran yang menyebabkan cahaya Al-Qur’an terhalang masuk ke dalamnya, seperti yang Allah jelaskan : Mengapa mereka tidak mentadabburkan Al-Qur’an? Ataukan hati mereka sdh terkunci mati? (QS.47 :24).

2.2.   Membuka tabir kebenaran Al-Qur’an, spt Allah jelaskan : Mengapa mereka tidak metadabburkan Al-Qur’an? Jika Al-Qur’an itu datang dari selain Allah, pasti mereka menemukan isinya banyak yang paradoks. (QS. 4 : 82).

2.3.   Cara terbaik mendapatkan keberkahan Al-Qur’an, pelajaran dan mempertajam intelektualitas & spiritualitas, sebagaimana yang Allah jelaskan : Ini adalah kitab yg Kami turunkan kepadamu (Muhammad Saw), penuh keberkahan agar mereka mentadabburkan ayat-ayatnya dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akalnya. (QS.38:29). Nah, tadabbur ialah pendalaman dan perenungan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga terjadi proses instalisasi software Al-Qur’an ke dalam otak kita dan values (nilai-nilai)-nya ke dalam hati nurani (qalb) kita, sehinga membentuk karakter & perilaku kita sesuai values Al-Qur’an.

Pengalaman kami dan banyak sahabat ketika berdakwah sejak awal tahun 80an, khususnya di kalangan siswa, mahasiswa dan kelompok terpelajar lainnya menunjukkan bahwa Metode Tadabbur Al-Qur’an ini sangat efektif untuk membangun kesadaran kembali kepada Islam dan Al-Qur’an dengan semangat keimanan, kendati hanya dengan mentadabburkan beberapa ayat Al-Qur’an yang terkait dengan ajaran Islam seperti masalah hukum menutup aurat bagi wanita Muslimah dan sebagainya. Betapa dahsyatnya pengaruh tadabbur bagi para pesertanya, sehingga peserta wanita Muslimah yang waktu datang tidak mengenakan jilbab, maka saat itu juga atau keesokan harinya ia sudah mengenakan jilbab. Hal ini sangat logis, karena dengan tadabbur tersebut kita dapat memahami langsung pesan yang Allah inginkan dalam ayat-ayat yang ditadabburkan itu.

Agar MUSHAF TADABBUR  ini sampai kepada target yang diharapkan, yakni agar ayat-ayat Al-Qur’an itu benar-benar dapat diinstal ke dalam otak dan jantung (hati nurani) dan kemudian berinteraksi dengan diri pembacanya, maka kami menggunakan metode tadabbur tersebut. Sebab itu, menganjurkan para pembaca agar mengikuti Metode Tadabbur  (penghayatan) ini melalui dua langkah berikut :

Langkah Strategis.

Langkah Strategis ialah hal-hal yang harus dilakukan sebelum membaca dan berinteraski dengan Al-Qur’an, atau disebut juga dengan adab yang terkait dengan Al-Qur’an. Di antaranya :

Berniat hanya karena Allah, bukan untuk mencari keuntungan duniawi, pujian atau hanya sekedar ingin tahu dan sebagainya.

Tanamkan dalam diri bahwa tujuan membaca, memahami atau menghafal Al-Qur’an adalah untuk meluruskan keyakinan (aqidah/iman), ucapan dan perbuatan agar sesuai degan yang diinginkan Allah. Dengan kata lain, berinteraksi dengan Al-Qur’an bertujuan untuk mengamalkan semua isi dan nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya, bukan hanya sekedar menambah ilmu dan pengetahuan belaka.

Berinteraksi dengan Al-Qur’an harus diniatkan untuk mencari ridha Allah, keberkahan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Menjaga selalu kesucian diri atau dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil selama berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Semaksimal mungkin dalam keadaan khusyu’ atau konsentrasi dan hindarkan pemikiran-pemikiran terkait urusan dunia serta menghadap kiblat, jika memungkinkan.

Sebelum membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, berdoalah kepada Allah agar Allah memudahkan dan memberkahi setiap upaya dalam berinteraksi dengan Kitab-Nya, yakni Al-Qur’an Al-Karim.

Langkah Teknis.

Langkah Teknis ialah hal-hal yang terkait dengan teknis berinteraksi dengan Al-Qur’an sehingga kandungan, makna atau pesan Al-Qur’an mengalir ke dalam otak kita, kemudian tertanam ke dalam jantung (hati nurani) sebagai sebuah keimanan, serta mengalir ke seluruh tubuh kita yang akan mengendalikan semua ucapan, pikiran dan tingkah laku kita sehari-hari. Langkah Teknis ini harus dilakukan secara berurutan, khususnya bagi saudara-saudara kita yang belum menghayati dan menikmati keindahan Al-Qur’an beserta kandungannya secara langsung atau tanpa terjemahan. Upayakan Langkah Teknis in dilakukan setelah Langkah Strategis di atas diterapkan. Adapaun langkah teknis mencakup:

2.1.   Bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diinginkan dengan tartil (memenuhi kaedah membaca Al-Qur’an sesuai ilmu Tajwid). Karena membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil itu pintu gerbang masuk ke dalam lautan kemukjizatan Al-Qur’an dan langkah awal yang permanen dalam berinteraksi dengannya. Jika belum mampu membacanya dengan tartil, segera belajar membaca Al-Qur’an agar mampu dengan tartil. Seperti yang disinggung sebelumnya, program : Kembali Kepada Al-Qur’an juga mencakup metode belajar membaca Al-Qur’an yang dikemas dalam sebuah buku dan VCD bimbingan membaca Al-Qur’an dengan cepat dan faseh, yakni 7 Langkah Belajar Membaca Al-Qur’an Sampai Faseh. Bagi yang belum mampu membaca Al-Qur’an secara tartil, maka tidak berarti tidak boleh membaca dan memahami Al-Qur’an, karena membaca Al-Qur’an dengan terbata-batapun ada pahalanya. Namun harus berupaya maksimal agar dapat membacanya secara tartil sebelum meninggal dunia.

2.2.   Setelah membaca ayat-ayat yang dimaksud, maka bacalah arti perkata atau arti per ayatnya sehingga dapat menangkap sebagian pesan ayat-ayat yang dibaca. Jika masih belum bisa menangkap pesan yang ada pada ayat-ayat yang dibaca, atau jika ingin menambah pemahamannya, maka bacalah catatan-catatan kakinya, agar  dapat memahami maksud dari kata atau ayat-ayat yang dibaca dan relavansinya lebih jelas lagi.

2.3.   Setelah membaca arti perkata atau arti per ayat dan catatan kakinya, jika ada, maka bacalah Tadabbur Ayat yang kami tuliskan di bawah arti per ayat. Membaca Tadabbur Ayat ini adalah inti berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam MUSHAF TADABBUR yang kami susun. Bagi yang sudah banyak dan terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui arti perkata atau per ayat, atau bagi yang menguasai bahasa Arab, maka silahkan langsung membaca Tadabbur ayatnya setelah membaca ayat-ayatnya dengan tartil.

2.4.   Dianjurkan pula beirnteraksi dengan Al-Qur’an melaui MUSHAF TADABBUR ini cukup satu sampai dua halaman setiap hari dan tidak perlu terburu-buru. Tadabbur Ayat kami tuliskan berdasarkan halaman agar tidak panjang dan mudah dicerna. Jika ayat atau kelompok ayat pada halaman berikutnya ada kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya,  maka kami jelaskan bahwa ayat atau kelompok ayat tersebut berkaitan. Hal penting lain yang harus dicatat ialah, menjaga kontinuitas interaksi dengan Al-Qur’an, kedati hanya satu halaman perhari, jauh lebih baik dari pada berinteraksi dengan Al-Qur’an setengah atau satu juz perhari, namun tidak kontinu, karena “Allah sangat mencintai amal yang dilakukan secara kontinu, kendati sedikit”. (HR. Imam Muslim)

2.5.   Upayakan setiap hari berinteraski dengan Al-Qur’an, minimal satu halaman melalui Metode Tadabbur yang kami susun ini, sehingga dalam waktu lebih kurang dua tahun, semua isi dan pesan Allah dalam Al-Qur’an dapat dimengerti dan dihayati dengan baik dan maksimal. Bagi yang siap berinteraksi setiap hari dua halaman, maka akan selesai sekitar satu tahun dan begitulah seterusnya. Setelah selesai mentadabburkan semua isi Al-Qur’an melalui MUSHAF TADABBUR ini, maka selamilah lautan mukjizat Al-Qur’an itu melalui salah satu atau beberapa kitab Tafsir yang mu’tamad, khususnya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi dan Fizhilalil Qur’an. Insya Allah, Anda akan tenggelam menikmati keindahan, kecanggihan dan kemukjizatan wahyu Allah yang bernama Al-Qur’an Al-Karim serta merasakan kebutuhan terhadap petunjuk-petunjuk hidup Al-Qur’an.

2.6.   Agar interaksi kita dengan Al-Qur’an melalui Metode Tadabbur ini semakin mendalam dan terasa nikmat serta berkah, maka dianjurkan pula untuk memiliki kebiasaan (habit) wirid membaca Al-Qur’an antara satu halaman sampai satu juz perhari. Karena membaca Al-Qur’an itu melahirkan berbagai kebaikan bagi pembacanya di dunia dan akhirat seperti yang disabdakan Rasul Saw.: “Bacalah Al-Qur’an itu, karena sesungguhnya ia akan datang kepada kalian pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat”. (HR. Imam Muslim)

Terkait dengan wirid membaca AL-Qur’an maka sebaiknya mulailah dari Surah Al-Fatihah sampai Surah terakhir, yakni An-Nas. Setelah tamat, maka ulangi lagi dari Surah Al-Fatihah dan begitulah seterusnya, sehingga dalam satu bulan kita menamatkan bacaan satu kali dan dalam setahun sekitar10 – 12 kali. Sungguh amat besar kebaikan yang akan diberikan Allah kepada yang menerapkannya.

2.7.   Terkait penerapan dan pengamalan isi dan pesan Al-Qur’an, maka kuncinya adalah:  Amalkan setiap perintah Allah dan tinggalkan setiap larangan-Nya yang terkandung di dalam Al-Qur’an secara bertahap. Dengan demikian, insya Allah kurang dari 23 tahun, Al-Qur’an akan menjadi pentunjuk hidup dalam semua aspek kehidupan. Agar penerapan tersebut sistematis dalam merekonstruksi keimanan, pemikiran dan perilaku kehidupan kita, maka hendaklah dimulai dari masalah-masalah keimanan, kemudian ibadah, mu’amalah (ekonomi), akhlak dan seterusnya. Beginilah cara Allah membangun generasi Sahabat sehingga mereka menjadi generasi Islam terbaik sepanjang masa. Adapun masalah-masalah keimanan yang sangat diprioritaskan ialah perintah mentauhidkan (mengesakan Allah), larangan berbuat syirik (menyekutukan Allah), al-walak (loyalitas penuh) pada Allah dan al-barok (berlepas diri) pada thaghut (semua tuhan yang disembah selain Allah), iman kepada para malaikat, rasul-rasul Allah, kitab-kitab Allah, kiamat, akhirat dan sebagainya . Masalah-masalah ini tidak boleh ditunda-tunda, karena mentauhidkan Allah itu dan masalah keimanan adalah hal yang utama bagi seorang Mukmin. Sedangkan perbuatan syirik itu membatalkan semua amal ibadah, seperti yang dijelaskan Allah : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan (bisa saja) mengampuni dosa-dosa lainnya. (QS. Anisak : 48 dan 116).

Setelah masalah keimanan, prioritas berikutnya adalah terkait perintah ibadah, halal dan haram, akhlak dan seterusnya. Strategi pengamalannya ialah dimulai dari yang mudah dilakukan dan terus menerus melakukan peningkatan secara kontinu. Demikian pula terkait dengan larangan (hal-hal yang diharamkan Allah), selain dari larangan syirik pada Allah, mulailah meninggalkan hal yang mudah ditinggalkan, kemudian terus meninggalkan yang lainnya secara kontinu. Insya Allah, jika pembaca disiplin, dalam dua tahun, maka akan terjadi perubahan yang luar biasa di dalam diri.

Perlu kami ingatkan, bahwa faktor yang sangat besar pengaruhnya dalam pengamalan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya ialah mentadabburkan ayat-ayat yang terkait dengan sistem penciptaan alam semesta, langit, bumi, manusia, kisah-kisah umat terdahulu yang Allah musnahkan, kematian, sakratul maut, peristiwa kiamat, dahsyatnya syurga dan neraka.

Hal penting lain yang perlu kami sampaikan ialah bahwa sesungguhnya susunan penulisan isi Al-Qur’an yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah An-Nas sangat sesuai dengan struktur persoalan yang dihadapi umat saat ini. Inilah hikmah kenapa susunan penulisan ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak Allah samakan dengan urutan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dari 5 ayat pertama dari surah Al-‘Alaq dan seterusnya. Allah Maha Mengetahui bahwa problematika umat Islam saat diturunkan Al-Qur’an selama 23 tahun itu sangat berbeda dengan problematika umat Islam setelahnya,  khususnya saat kaum Muslimin seperti hari ini yang menjauhkan diri dari Al-Qur’an. Sebab itu, jika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an secara runut, yakni dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas, maka yakinlah semua problematika kita akan terselesaikan secara sistematis dan fundamental. Namun, demikian, tidaklah dilarang jika di antara kita ingin memulai berinteraksi dengan ayat atau Surah tertentu, sesuai dengan kebutuhan diri kita.

Faktor lain ialah karena ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri penuh kekuatan dan kemukjizatan sehingga dengan mudah merubah cara berfikir dan pemahaman orang yang mentadabburkannya. Saking dahsyatnya kekuatan dan kemukjizatan ayat-ayat Al-Qur’an itu, maka gunungpun bisa terbelah karena takut pada Allah jika diturunkan ke atasnya. (Q.S. Al-Hasyr : 21).  Tentulah hati, fikiran dan perasaan manusia lebih luluh lagi saat mentadabburkan ayat-ayat Al-Qur’an yang penuh kekuatan dan kemukjizatan itu. Namun demikian, satu hal yang harus dihindari ialah memaksakan pemahaman yang belum jelas kebenarannya terkait suatu ayat Al-Qur’an. Jika belum sampai kepada suatu keyakinan yang didukung oleh ayat-ayat lain atau hadits-hadits shaheh, maka segeralah perluas tadabburnya melalui kitab-kitab Tafsir yang mu’tamad seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian, insya Allah kita akan terhindar dari pemahaman dan penafsiran yang kurang tepat atau mungkin saja keliru dan menyimpang.

Referensi

Agar terjaga asholah (orisinilitas) pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan mudah pula untuk dicerna oleh para pembaca, maka kami dalam menuliskan Tadabbur Ayat dalan MUSHAF TADABBUR ini hanya membatasi referensi melalui kitab Tafsir Ibnu Katsir. Karena ruang Tadabbur Ayat ini sangat terbatas, maka kami tidak mencantumkan catatan-catatan kaki dari apa yang kami kutip dari tafsir Ulama besar tersebut. Di samping itu, apa yang kami kutip dari Tafsir Ibnu Katsir adalah pemahamannya, bukan menukil atau menyalin redaksi  yang dituliskan dalam kitab tafsir tersebut.

Selain itu, kami berupaya sekeras tenaga dan fikiran bagaimana pemahaman yang tertuang dalam Tadabbur Ayat dalam Tafsir Al-Qur’an Interaktif  ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir,  khususnya ayat-ayat yang kami belum pahami konteks dan isyaratnya. Namun demikian, jika ada pembaca menemukan pemahaman ayat yang tidak sesuai atau menyimpang dari pemahaman para Sahabat dan ulama-ulama besar Tafsir lainnya seperti Ibnu Katsir dan sebagainya, mohon kiranya kami diberitahukan agar kami dapat merefisinya dalam terbitan-terbitan berikutnya dan kami mengucapkan, jazakumullahu kharal jaza’, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda. Adapun terkait dengan penulisan khat Arab (khat Utsmani), terjemahan per ayat dan catatan kaki, kami mengikuti standar Kementerian Agama RI.

PT. CAHAYA INTAN CEMERLANG.

 

 

 

 

 


Category: Al-Qur'an

About the Author


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

ALAMAT PENERBIT AL-QUR’AN

Taman Manggis Permai Blok D-17,
Jl. Tole Iskandar Depok - Jawa Barat.
Telp : 021-778 29391
Fax : 021-778 28744
Blackberry Pin : 332B4A1B


Map


Join Us

http://www.facebook.com/cintabaca.alquran http://twitter.com/hobibacaquran

Yahoo Messenger


Calendar

September 2014
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Visitors

000571
Visit Today : 1
Visit Yesterday : 1
This Month : 13
This Year : 255
Total Visit : 571
Hits Today : 8
Total Hits : 3651
Who's Online : 0
Your IP Address: 54.80.146.251
Server Time: 14-09-15